Selasa, 20 Maret 2018

Perkembangan Kreativitas Anak




Kreativitas

     Kreativitas adalah sebuah konsep yang majemuk dan multi-dimensional, sehingga sulit didefinisikan secara operasional. Definisi sederhana yang sering digunakan secara luas tentang kreativitas adalah kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru. Wujudnya adalah tindakan manusia. Melalui proses kreatif yang berlangsung dalam benak orang atau sekelompok orang, produk-produk kreatif tercipta. Produk itu sendiri sangat beragam, mulai dari penemuan mekanis, proses kimia baru, solusi baru atau pernyataan baru mengenai sesuatu masalah dalam matematika dan ilmu pengetahuan. Berpikir konvergen dan divergen ini cenderung berkorelasi. Salah satu hasil penelitian dari dua pakar psikologi dari Universitas Chicago, Getzels dan Jackson 1962), menemukan bahwa kelompok siswa yang kreativitasnya tinggi memiliki prestasi sekolah yang tidak berbeda dengan kelompok siswa yang intelegensinya relatif lebih tinggi. Di samping menyebutkan pentingnya perkembangan berpikir divergent, Guilford juga menyebutkan bahwa kreativitas berarti ap-titude dan non-aptitude. Ciri-ciri aptitude dari kreativitas (berpikir kreatif) meliputi: kelancaran, fleksibilitas, dan orisinalitas dalam berpikir, dan ciri-ciri ini dioperasionalisasikan dalam tes berpikir konvergen.
      Menurut torrance  kreativitas adalah proses kemampuan individu untuk memahami kesenjangan atau hambatan dalam hidupnya, merumuskan hipotesis baru, dan mengomunikasikan hasil-hasilnya, serta sedapat mungkin memodifikasika dan menguji hipotesis yang telah dirumuskan.





2    PERKEMBANGAN KREATIVITAS

1.      Tahap Sensori-Motoris
   Tahap ini dialami pada usia 0-2 tahun. Pada tahap ini anak berada dalam suatu masa pertumbuhan yang ditandai oleh kecenderungan sensori-motoris yang amat jelas. Segala perbuatan merupakan perwujudan dari proses pematangan aspek sensori-motoris tersebut.
  
2.    Tahap Praoperasional
  Tahap ini berlangsung pada usia 2-7 tahun. Tahap ini disebut juga tahap intuisi sebab perkembangan kognitifnya memperlihatkan kecenderungan yang ditandai oleh suasana intuitif. Artinya, semua perbuatan rasionalnya tidak didukung oleh pemikiran tetapi oleh unser perasaan, kecenderungan alamiah, sikap-sikap yang diperoleh dari orang-orang bermakna, dan lingkungan sekitarnya.

3.   Tahap Operasional Konkret
  Tahap ini berlangsung antara usia 7-11 tahun. Pada tahap ini, anak mulai menyesuaikan diri dengan realitas konkret dan berkembang rasa ingin tahunya. Pada tahap ini, menurut Jean Piaget (Bybee dan Sund, 1982), interaksinya dengan lingkungan, termaksud dengan orang tua, sudah semakin berkembang dengan baik karena egosentrisnya sudah semakin berkurang. Anak sudah dapat mengamati, menimbang, mengevaluasi, dan menjelaskan pikiran-pikiran orang lain dengan cara yang kurang egosentris dan lebih objektif.

4.   Tahap Operasional Formal
  Tahap ini dialami oleh anak pada usia 11 tahun ke atas. Pada masa ini, anak telah mampu mewujudkan suatu keseluruhan dalam pekerjaannya yang merupakan hasil dari berpikir logis. Aspek perasaan dan moralnya juga telah berkembang sehingga dapat mendukung penyelesaian tugas-tugasnya.
Beberapa faktor yang mendukung berkembanganya potensi kreaktivitas, antara lain sebagai berikut :
- Remaja sudah mampu melakukan kombinasi tindakan secara proporsional berdasarkan pemikiran logis. -Remaja sudah mampu melakukan kombinasi objek-objek secara proposional berdasarkan pemikiran logis.
 - Remaja sudah memiliki pemahaman tentang ruang relatif.
 - Remaja sudah memiliki pemahaman tentang waktu relatif.
 - Remaja sudah mampu melakukan pemisahan dan pengendalian variabel. Variabel dalam menghadapi masalah yang kompleks.
 - Remaja sudah mampu melakukan abstraksi relatif dan berpikir hipotesis.
  Remaja sudah memiliki diri ideal (ideal self).
  Remaja sudah memahami bahasa abstrak.


TAHAP-TAHAP KREATIVITAS

            Proses kreatif berlangsung mengikuti tahap-tahap tertentu. Tidak mudah mengidentifikasikan secara persis pada tahap manakah suatu proses kreatif itu sedang berlangsung.

1.   Persiapan (preparation)
  Pada tahap ini, individu berusaha mengumpulkan informasi atau data untuk memecahkan masalah yang dihadapi. Individu mencoba memikirkan berbagai alternatif pemecahan terhadap masalah yang dihadapi. 

2.    Inkubasi (incubation)
  Pada tahp ini, proses pemecahan masalah “dierami” dalam alam pradasar, individu seakan-akan melupakannya. Jadi, pada tahap ini individu seolah-olah melepaskan diri untuk sementara waktu dari masalah yang dihadapinya, dalam pengertian tidak memikirkannya secara sadar melainkan “mengendapkannya” dalam alam prasadar. Proses inkubasi ini dapat berlangsung lama (berhari-hari) atau bahkan bertahun-tahun) dan bisa juga sebentar (beberapa jam saja) sampai kemudian timbul inspirasi atau gagasan untuk pemecahan masalah.

3.    Iluminasi (illumination)
  Tahap ini sering disebut sebagai tahap timbulnya insight. Pada tahap ini sudah dapat timbul inspirasi atau gagasan-gagasan baru serta proses-proses psiokologi yang mengawali dan mengikuti munculnya inspirasi atau gagasan baru. Ini timbul setelah diendapkan dalam waktu yang lama atau bisa juga sebentar pada tahap inkubasi.

4.     Verifikasi (verification)
  Pada tahap ini, gagasan yang telah muncul dievaluasi secara kritis dan konvergen serta menghadapkannya kepada realitas. Pada tahap ini, pemikiran dan sikap spontan harus diikuti oleh pemikiran selektif dan sengaja. Penerima secara total harus diikuti oleh kritik. Firasat harus diikuti oleh pemikiran logis. Keberanian harus diikuti oleh sikap hati-hati. Imajinasi harus diikuti oleh pengujian terhadap realitas.
Jadi, kalau pada tahap preparation, incubation, dan illumination adalah proses berpikir divergen yang menonjol maka dalam tahap verification yang lebih menonjol adalah proses berpikir konvergen.


KARAKTERISTIK KREATIVITAS

   Berbagai karakteristik atau ciri kreativitas yang dikemukakan pada bagian ini merupakan serangkaian hasil studi terhadap kreativitas. Pendekatan serupa untuk mengidentifikasikan sikap, kepercayaan, dan nilai pada orang-orang kreatif juga digunakan oleh Utami Munandar (Dedi Supriadi, 1989).

Piers  mengemukakan bahwa karakteristik kreativitas adalah sebagai berikut :  
1Memiliki dorongan (drive) yang tinggi.
Memiliki keterlibatan yang tinggi.
 Memiliki rasa ingin tahu yang besar.
 Memiliki ketekunan yang tinggi.
 Cenderung tidak puas terhadap kemapanan.
 Penuh percaya diri.
Memiliki kemandirian yang tinggi.
 Bebas dalam mengambil keputusan.
 Menerima diri sendiri.
Senang humor.
Memiliki intuisi yang tinggi.
 Cenderung tertarik kepada hal-hal yang kompleks.
 Toleran terhadap ambiguitas.
1 Bersifat sensitif.

Utami Munandar  mengemukakan ciri-ciri kreativitas, antara lain sebagai berikut.
 Senang mencari pengalaman baru.
Memiliki keasyikan dalam mengerjakan tugas-tugas yang sulit.
Memiliki inisiatif.
Memiliki ketekunan yang tinggi.
Cenderung kritis terhdapa orang lain.
Berani menyatakan pendapat dan keyakinan.
Selalu ingin tahu.
  Peka atau perasaan
Enerjik dan ulet.
Menyukai tugas-tugas yang majemuk
Percaya kepada diri sendiri.
Mempunyai rasa humor.
Memiliki rasa keindahan.
 Berwawasan masa depan dan penuh imajinasi.
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KREATIVITAS
            Pada mulanya, kreativitas dipandang sebagai faktor bawaan yang hanya dimiliki oleh individu tertentu. Dalam perkembangan selanjutnya, ditemukan bahwa kreativitas tidak dapat berkembang secara otomatis tetapi membutuhkan rangsangan dari lingkaran.
          faktor-faktor yang memengaruhi kreativitas adalah
Usia
Tingkat pendidikan orang tua
Tersedianya fasilitas, dan
Penggunaan waktu luang
Sedangkan faktor-faktor yang menghambat berkembangnya kreativitas adalah sebagai berikut.
 Adanya kebutuhan akan keberhasilan, ketidakberanian dalam menanggung risiko, atau upaya mengejar sesuatu yang belum diketahui.
Konformitas terhadap teman-teman kelompoknya dan tekanan sosial.
 Kurang berani dalam melakukan eksplorasi, menggunakan imajinasi, dan penyelidikan.
 Stereotip peran seks atau jenis kelamin.
 Diferensiasi antara bekerja dan bermain.
Otoritarianisme.
Tidak menghargai fantasi khayalan.
Jadi, menurut Torrance  interaksi antara orang tua dengan anak atau remaja yang dapat mendorong berkembangnya kreativitas bukanlah interaksi yang didasarkan atas situasi stimulus-repons, melainkan atas dasar kehidupan kehidupan sejati (a living relationship) dan saling tukar pengalaman (coexperiencing). Dalam situasi seperti ini, orang tua dan anak (remaja) adalah subjek yang saling berinteraksi secara seimbang
MASALAH APA YANG SERING TIMBUL PADA ANAK KREATIF
            Anak-anak kreatif, meskipun memiliki kemampuan atau kelebihan dibandingkan dengan anak-anak pada umumnya, bukan berarti selalu mulus dalam perkembangan psikologisnya. Di samping potensi kreatifnya itu jika tidak mendapatkan penanganan secara baik justru seringkali menimbulkan masalah pada dirinya. Berkenaan dengan ini, sejumlah masalah yang sering timbul atau dialami oleh anak-anak kreatif, yaitu sebagai berikut.
1.     Pilihan karier yang tidak realistis
Karena kemampuan kreatifnya itu menyebabkan anak-anak kreatif seringkali cenderung memiliki pilihan karier yang tidak realistis, kurang populer, dan tidak lazim (unconventional) sejauh dipersepsi oleh lingkungannya. Kondisi psikologis yang seperti ini jika tidak mendapatkan bimbingan secara baik dapat mengarahkan dirinya kepada pilihan karier yang kurang tepat. Akibatnya, dapat menimbulkan frustasi jika pilihannya tidak didasari oleh pemahaman yang cukup mengenai jenis karier yang akan dipilihnya.
2.     Hubungan dengan guru dan teman sebaya
Dalam berhubungan dengan guru dan teman sebaya, anak-anak kreatif kadang-kadang mengalami hambatan. Sebagai konsekuensi dari potensi kreatifnya, mereka cenderung kritis, memiliki pendapatnya sendiri, berani mengemukakan dan mempertahankan pendapatnya, berani mengemukakan ketidaksetujuannya terhadap pemikiran orang lain, tidak mudah percaya, memiliki keinginan yang sering kali berbeda dengan teman-teman pada umumnya, serta tidak begitu senang untuk melekatkan diri kepada otoritas. Kritisan dan sifat-sifat yang melekat pada dirinya itu seringkali berakibat dijauhi oleh teman sebayanya atau kurang disenangi oleh guru yang memang tidak senang dikritisi.
3.     Perkembangan yang tidak selaras
Jika lingkungannya tidak dapat mengakomodasi keunggulan potensi kreatifnya itu, dapat muncul masalah dalam diri anak-anak kreatif. Masalah yang timbul disebut dengan istilah uneven development(perkembangan yang tidak selaras) antara kematangan intelektual dengan perkembangan aspek-aspek emosional dan sosialnya.
4.     Tiadanya tokoh-tokoh ideal
Anak-anak kreatif cenderung memiliki tokoh-tokoh orang besar yang sangat diidealkan dalam hidupnya. Tokoh-tokoh ideal bisa berada dekat di lingkungan sekitarnya, tetapi dapat juga berada di tempat yang jauh dan sulit dijangkau. Jika tokoh idealnya berada di tempat yang jauh, anak-anak kreatif cenderung berusaha untuk dapat menjangkau melalui cara mereka sendiri. Misalnya, membaca riwayat hidupnya, dan mengoleksi foto-fotonya. Kelangkaan tokoh ideal karena kelangkaan informasi dapat mengakibatkan anak-anak kreatif tersesat kepada pilihan tokoh ideal yang salah. Oleh karena itu, mereka sangat memerlukan informasi untuk mendapatkan tokoh yang mereka idealkan.[8]


UPAYA MEMBANTU PERKEMBANGAN KREATIVITAS DAN IMPLIKASINYA BAGI PENDIDIKAN
            Sesungguhnya anak-anak kreatif kedudukannya sama saja dengan anak-anak biasa lainnya di rumah, sekolah, maupun masyarakat. Namun, karena potensi kreatifnya itu, mereka sangat memerlukan perhatian khusus dari pendidik untuk mengembangkan dirinya. Perhatian khusus disini bukan berarti mereka harus mendapatkan bimbingan sesuai dengan potensi kreatifnya agar tidak sia-sia. Kelemahan pendidikan selama ini dalam konteksnya dengan pengembangan potensi kreatif anak adalah kurangnya perhatian terhadap pengembangan fungsi belahan otak kanan. Akibatnya, tidak sedikit anak-anak yang sebenarnya memiliki potensi kreatif mengalami apa yang disebut dengan istilah creativity drop (penurunan kreativitas).
          Oleh karena itu, sistem pendidikan hendaknya memperhatikan kurikulum yang akan diolah menjadi materi dalam proses pendidikan itu yang dapat dikembalikan kepada fungsi-fungsi pengembangan yang berbeda dari kedua belahan otak manusia tersebut.
          Agar proses pendidikan dapat memberikan bantuan kepada anak-anak kreatif, para guru dan pembimbing di sekolah sudah seharusnya mengenali anak-anak kreatif yang menjadi peserta didiknya

Perkembangan Intelektual Remaja




A.     PENGERTIAN INTELEK

Ø  Menurut kamus Webster New World Dictionary of The American Languange, istilah Intelect berarti:
v  Kecakapan untuk berfikir , mengamati atau mengerti. Kecakapan untuk mengamati hubungan-hubungan, perbedaan-perbedaan, dan sebagainya. Dengan demikian kecekapan berada dari kemauan dam perasaan.
v  Kecakapan mental yang besar , sangat intelegensi.
v  Pikiran atau intelegensi.
Ø  Istilah intelek berasal dari bahasa Inggris intellect 
1.      Proses kognitif, proses berpikir, daya menghubungkan, kemampuan
    menilai, dan kemampuan mempertimbangkan
2.      Kemampuan mental atau itelegensi
Ø   “intelek” adalah akal budi atau inteligensi yang berarti kemampuan untuk meletakkan hubungan dari rposes berfikir. Selanjutnya, dikatakan bahwa orang yang intelligent adalah orang yang dapat menyelesaikan persoalan dalam waktu yang lebih singkat, memahami masalahnya lebih cepat dan cermat, serta mampu bertindak cepat.
Ø  Menurut English dan English dalam bukunya “ A Comprehensive dictionary of pisychological and Psychoanalitical Terms “. Istlah Intelect berarti antara lain :
1.      Kekuatan mental  dimana manusia dapat berfikir
2.      Suatu rumpun nama untuk proses kognitif, terutama untuk aktifitas yang berkenaan dengan berfikir (misalnya menghubungkan, menimbang, dan memahami)
3.      Kecakapan, terutama kecakapan yang ti nggi untuk berfikir ( bandingkan dengan Intelligence, Intelligence = intellect).

      Untuk mengukur kecerdasan atau intelek di perlukan tes IQ. IQ adalah sebuah singkatan yang kepanjangannya adalah Intelegensi Qaution dalam bahasa Indonesia sering disebut angaka kecerdasan seseorang. Kecerdasan yang dimaksud adalah kemampuan manusia secara umum (dalam hal pada umumnya).Hasilnya adalah berupa angka/score.

Manfaat Tes IQ
1.      Dapat mengetahui kecerdasan yang dimiliki
2.      Dapat melihat sejauh mana potensi bisa dikembangkan secara maksimal.
3.      Untuk mengkreasikan antara tingkat kecerdasan dengan hasil belajar yang dicapai (jika     IQ tinggi harusnya prestasi belajar juga tinggi)
4.      Untuk mendeteksi kesulitan belajar disebabkan karena faktor kemampuan ataukah faktor yang lain seperti kemalasan, dll.
5.      Untuk pertimbangan dalam memilih jenjang pendek/panjang.
Ø  Beberapa para ahli mengemukakana pengertian Intelektual sebagai berikut:
1.      Super dan Cites mengemukakan bahwa intelegensi telah sering didefisikan sebagai kemampuan memnyesuaikan diri dengan lingkungan atau belajar dari pengalaman.
2.      Garret (1946) mengemukakan bahwaintelegensi itu setidak-tidaknya mencakup kemampuan-kemampuan yang di perlukan untuk pemecehan masalah-masalah yang memerlukan pengertian serta menggunakan simbol-simbol.
3.      Alfred Binet (dalam Sobani Irfan,1986) mengemukakan bahwa intelegensi adalah suatu kapasitas intelektual umum, yang antara lain mencakup kemampuan :
·         Menalar dan menilai
·         Menyeluruh
·         Mencipta dan merumuskan arah berfikir spesifik
·         Menyesuaikan pikiran pada pencapaian hasil akhir
·         Memiliki kemampuan mengeritik dirisendiri
Ø  Dari berbagai definisi di atas dapat di simpulkan bahwa intelegensi itu adalah kemampuan untuk memperoleh berbagai informasi berffikir abstrak, menalar serta bertindak secara efesien seta efektif.

B.      HUBUNGAN ANTARA INTELEK DAN TINGKAH LAKU

Kemampuan berfikir abstrak menunjukkkan perhatian seseorang kepada kejadian  dan   peristiwa yang tidak kongkrit seperti misallna pilihan pekerjaan , corak hidup bermasyarakat, pilihan pasangan hidup yang sebenarnya masih jauh di depannya dan lain- lain. Kemampuan abstraksi akan berperan dalam perkembangan kepribadiannya.
Pikiran remaja sering di pengaruhi oleh ide-ide dan teori-teori yang menyebabkan sikap kritis terhadap situasi dan orang tua. Sikap kritis ini juga di tubjukkkan pada hal-hal yang sedah umum baginya pada masa sebelumnya, sehingga tata cara, dan adat istiadat yang berlaku di lingkungan  keluarga sering terasa terjadi atau ada pertentangan dengan sikap keritis yang tampak pada perilakunya.
Disamping itu pengaruh egosentris masih terlihat pada pikirannnya  :
a.      Cita-cita dan idealism yang baik , terlalu menitik beratkan pikiran sendiri tanpa memikirkan akibat  lebih jauh dan tanpa memperhitungkan kesulitan praktis yang mungkin menyebabkan tidak berhasilnya menyelesaikan persoalan.
b.      Kemampuan berfikir dengan pendapat sendiri, belum disertai pendapat orang lain dalam penilainnya.

Egosentrisme “ kekakuan” para remaja  dalam cara berfikir maupun bertingkah laku. Persoalan yang timbul pada maasa remaja adalah banyak bertalian dengan perkembangan fisik  yang dirasakan mencekam dirinya. Hal ini menimbulkan perasaan “seperti “ selalu diamati orang lain, perasaaan malu dan membatasi gerak geriknya.

C.      KARAKTERISTIK PERKEMBANGAN INTELEK REMAJA

Pada umumnya 3 – 4 tahu pertama menunjukkan perkembangan yang hebat, selanjutnya akan terjadi perkembangan yang teratur. Pada awal masa remaja, kira-kira pada usia 12 tahun anak pada masa yang di sebut “ masa operasi formal” (berfikir abstrak). Dalam berfikir operasional  formal setidak tidakkna mempunyai 2 sifat yang penting, yaitu:
a.      Sifat Deduktif Hepotesis
Pada dasarnya pengajuan hipotesis itu menggunakan cara berfikir induktif, disamping deduktif, oleh sebab itu dari sifat analisis yang ia lakukan, ia dapat membuat strategi penyelesaina.
b.      Berfikir Operasional juga berfikir Kombinatoris
Dengan berfikir operasional fornmal memungkinkan orang untuk mempunyai tingkah laku problem solving yang betul-betul ilmiah, serta memungkinkan untuk mengadakan pengujian hipotesis dengan variabrel- variable tergantung yang mungkin ada.
Jadi, dengan berfikir operasional formal memungkinkan orang untuk mempunyai tingkah laku problem  solving yang betul-betul ilmiah, serta memungkinkan untuk  mengadakan pengujian dengan  variable-variabel tergantung yang mungkin ada. Berfikit abstrak atau formal operation ini merupakan cara berfikir yang bertalian dengan hal-hal yang tidak dilihat dan  kejadian-kejadian tidak langsung dihayati.
Cara berfikir terlepas dari tempat dan waktu,dengan cara hipotesis,deduktif yang sistematis,tidak selalu dicapai oleh remaja.cara berfikir ini tergantung pada tingkat intelegensi dan kebudayaan disekitarnya.

D.      FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERKEMBANGAN INTELEK

Hal-hal yang mempengaruhi perkembangan intelek itu antara lain:
                    i.            Bertambahnya informasi yang disimpan (dalam otak) seseorang sehingga ia mampu berfikir reflektif.
                  ii.            Banyaknya pengalaman dan latihan-latihan  memecahkan masalah sehingga seseorang dapat berfikir proposional.
                iii.            Adanya kebebasan berfikir, menimbulkan keberanian seseorang  dalam menyusun  hipotesis yang radikal, kebebasan menjejaki masalah secara keseluruhan.

Perkembangan intelektual sebenarnya diperngaruhi oleh dua faktor utama, yaitu     hereditas dan lingkungan. Pengaruh kedua faktor itu pada kenyataannya tidak terpisah secara sendiri-sendiri melainkan seringkali merupakan resultan dari interaksi keduanya. Pengaruh faktor hereditas dan lingkungan terhadap perkembangan intelektual itu dapat dijelaskan berikut ini :
        i.            Faktor Hereditas
Semenjak dalam kandungan, anak telah memiliki sifat-sifat yang menentukan daya kerja intelektualnya. Secara potensial anak telah membawa kemungkinan apakah akan menjadi kemampuan berfikir setara normal, di atas normal atau di bawah normal. Namun, potensi ini tidak akan berkembang atau terwujud secara optimal apabila lingkungan tidak memberi kesempatan untuk berkembang. Oleh karena itu, peranan lingkungan sangat menentukan perkembangan intelektual anak.
      ii.            Faktor Lingkungan
Ada dua unsur lingkungan yang sangat penting peranannya dalam memengaruhi perkembangan intelek anak, yaitu keluarga dan sekolah.
1.      Keluarga
Intervensi yang paling penting dilakukan oleh keluarga atau orang tua adalah memberikan pengalaman kepada anak dalam berbagai bidang kehidupan sehingga anak memiliki informasi yang banyak yang merupakan alat bagi anak untuk berpikir. Cara-cara yang digunakan, misalnya memberi kesempatan kepada anak untuk merealisasikan ide-idenya, menghargai ide-ide tersebut, memuaskan dorongan keingintahuan anak dengan jalan seperti menyediakan bacaan, alat-alat keterampilan, dan alat-alat yang dapat mengembangkan daya kreativitas anak. Memberi kesempatan atau pengalaman tersebut akan menuntut perhatian orangtua.
2.      Sekolah
Sekolah adalah lembaga formal yang diberi tanggungjawab untuk meningkatkan perkembangan anak tersebut perkembangan berpikir anak. Dalam hal ini, guru hendaknya menyadari bahwa perkembangan intelektual anak terletak di tangannya. Beberapa cara diantaranya adalah sebagai berikut :
a.      Menciptakan interaksi atau hubungan yang akrab dengan peserta didik.
b.      Memberi kesempatan kepada para peserta didik untuk berdialog dengan orang-orang yang ahli dan pengalaman dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan, sangat menunjang perkembangan intelektual anak.
c.       Menjaga dan meningkatkan pertumbuhan fisik anak, baik melalui kegiatan olahraga maupun menyediakan gizi yang cukup, sangat penting bagi perkembangan berpikir peserta didik.
d.      Meningkatkan kemampuan berbahasa peserta didik, baik melalui media cetak maupun dengan menyediakan situasi yang memungkinkan para peserta didik berpendapat atau mengemukakan ide-idenya.
 faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan intelegensi antara lain :
a)      Faktor Pembawaan (Genetik)
Intelegensi mengandung potensi bawaan, tetapi untuk dapat berfungsi dan berkemmbang seoptimal mungkin sebagaimana mestinya perlu mendapatkan pendidikan dan latihan dari lingkungan.
b)      Faktor Gizi
Kebutuhan akan makanan bernilai gizi tinggi (gizi berkembang) teruutama yang besar pengaruhnya pada perkebangan intelegensi ialah pada fase prenata (anak dalam kandungan) hingga usia balita, sedangkan usi di atas lima tahun pengaruhnya tidakk signifikan lagi.
c)      Faktor Kematangan
Perkembangan intelaegensi semakin meningkat usia ke arah dewasa bahkan semakin tua, oranng semakin cermat menganalisis suatu persoalan karena di dukung oleh pengalaman-pengalaman hidupnya.
d)      Faktor Pembentukan
Fasilattas sarana yang disediakan oleh orang tua  seperti baha bacaan majalah anak-anak dan saran bermain yang memadai, semua ini dapat mementuk anak menjadi meningkakan fungsi dan kualitas pikirannya. Pada situasi ini dapat meningkatkan perkembangan intelaeegensi anak d banding anak seusianya.
    iii.            Kebebasan Psikologis
 tiga faktor yang dapat mempengaruhi perkembangan intelaegensi anak, yaitu:
Ø  Bertambahnya informasi yang disimpan (dalam otak) seseorang sehingga ia akan mampu berfikir selektif.
Ø  Banyaknya pengalaman-pengalaman pelatihan memecahkan masalah-masalah, sehingga seseorang dapat berfikir secara proposional.
Ø  Adanya kebebasan berfikir, sehingga anak dapat memecahkan masalah dan menarik kesimpulan.
Pandangan pertama yang mengakui bahwa inteligensi itu adalah faktor bakat, dinamakan aliran Nativisme, sedangkan pandangan kedua yang menyatakan bahw inteligensi itu dapat dipengaruhi oleh lingkungan dinamakan aliran Empirisme.
Dalam hubungannya dengan perkembangan inteligensi/kemampuan berfikir remaja, ada yang berpandangan bahwa adalah keliru jika IQ dianggap bisa ditingkatkan,yang walaupun perkembangan IQ dipengaruhi antara lain oleh faktor-faktor lingkungan. hal-hal yang mempengaruhi perkembangan antara lain :
a.      Bertambahnya informasi yang disimpan (dalam otak) seseorang sehingga ia mampu berfikir reflektif.
b.      Banyaknya pengalaman dan latihan-latihan memecahkan masalah sehingga seseorang dapat berpikir proporsional.
c.       Adanya kebebasan berpikir, menimbulkan keberanian seseorang dalam menyusun hipotesis-hipotesis yang radikal, kebebasan menjajaki masalah secara keseluruhan, dan menunjang keberanian anak memecahkan masalah dan menarik kesimpulan yang baru dan benar.

Tiga kondisi diatas sesuai dengan dasar-dasar teori Piaget mengenai perkembangan inteligensi, yakni :
a.      Fungsi inteligensi termasuk proses adaptasi yang bersifat biologis.
b.      Bertambahnya usia menyebabkan berkembangnya struktur inteligensi baru, sehingga pengaruh pula terhadap terjadinya perubahan kualitatif.

Wechsler berpendapat bahwa keseluruhan inteligensi seseorang tidak dapat diukur. IQ adalah suatu nilai yang hanya dapat ditentukan secara kira-kira karena selalu dapat terjadi perubahan-perubahan berdasarkan faktor-faktor individual dan situasional.
menemukan tiga unsur penting dalam keluarga yang amat terpengaruh, yaitu :
  1. Jumlah buku, majalah, dan materi belajar lainnya yang terdapat dalam lingkungan keluarga.
  2. Jumlah ganjaran dan pengakuan yang diterima anak dari orang tua atas prestasi ademiknya.
  3. Harapan orang tua atas prestasi akademiknya.
Disamping itu, variasi dalam stimulus adalah bagian penting dari lingkungan dan belajar untuk perkembangan inteligensi anak. Bila pengalaman awal masa kanak-kanak banyak diisi dengan variasi dalam melihat, mendengar, dan meraba, maka perkembangan berikutnya akan ditunjang ileh kemauan yang selalu menginginkan variasi dalam melihat, mendengar, dan meraba.
Setiap individu memiliki kemampuan berfikir yang berbeda-beda. Ini merupakan tugas guru agar dapat meningkatkan kemampuan intelek anak. Agar kemampuannya dalam berfikir samarata. Kita juga harus bisa mengoptimalkan kemampuan otak anak dalam peningkatan intelek anak dengan mengetahui susunan otak dan teori belahan otak dan bagaimana mengoptimalkannya

E.      CARA MENINGKATKAN PERKEMBANGAN INTELEK

Faktor lingkungan seseorang berbeda-beda sehingga informasi dan pengalaman yang diperolehnya pun berbeda-beda, misalnya keluarga, sekolah dan mayarakat. Kita sebagai pendidik harus dapat mengetahui cara untuk meningkatkan perkembangan intelek anak, misalnya :
1.      Menciptakan interaksi yang akrab dengan peserta didik sehingga ia merasa nyaman untuk mengkonsultasikan masalah yang dimilkinya kepada kita.
2.      Memberikan kesempatan kepada siswa untuk mecari ilmu atau pengetahuan dari berbagai sumber yang menunjang perkembangan inteleknya.
3.      Meningkatkan pertumbuhan anak, misalnya kegiatan olahraga, memberi gizi yang cukup, dsb. Sehingga perkembangan intelektualnya tidak akan terganggu oleh perkembangan fisik.
4.      Meningkatkan kemampuan berbahasa peserta didik agar ia dapat berdialog dan berinteraksi dengan mudah.

F.       PERBEDAAN INDIVIDU DALAM KEMAMPUAN DAN PERKEMBANGAN INTELEK

Seperti yang di ketahui, manusia itu berbeda satu sama lain dalam berbagai hal, juga tentang intelegensinya. Nilai IQ yang dihasilkan dari pengukuran intelegensi pada anak umur tertentu akan menghasilkan sebaran nilai yang membentuk sebaran normal ( normal distribution) dengan rata-rata 100  dan simpangan baku 15.
Klasifikasi Nilai Hasil Tes IQ Untuk tes IQ score yang dihasilkan berkisar 70 – 169. Dengan penerjemahan sebagai berikut :
a.      140 – 169 : Very superior (sangat pandai)
b.      120 – 139 : Superior (pandai)
c.       110 – 119 : High Average (diatas rata-rata)
d.      90 – 109 : Average (rata-rata)
e.      80 – 89 : Low average (dibawah rata-rata)
f.        70 – 79 : Barderline (lambat belajar)

Menurut Piaget, inteligensi mempunyai beberapa sifat :
1.      Inteligensi adalah interaksi aktif dengan lingkungan
2.      Inteligensi meliputi struktur organisasi perbutan dan pikiran, dan interaksi yang bersangkutan antara individu dan lingkungannya
3.      Struktur tersebut dalam perkembangannya mengalami perubahan kualitatif
4.      Dengan bertambahnya usia, penyesuaian diri lebih mudah karena proses keseimbangan yang bertambah luas
5.      Perubahan kualitatif pada inteligensi timbul pada masa yang mengikuti suatu  rangkaian tertentu.

Sebagian kesimpulan dari berbagai pendekatan/teori psikologi yang telah dikemukakan, menunjukkan bahwa inteligensi itu bersifat individual, artinya antara satu yang lainnya tidak sama persis kualitas IQ-nya.

G.     USAHA-USAHA DALAM MEMBANTU MENGEMBANGKAN INTELEK REMAJA DALAM PROSES PEMBELAJARAN

Menurut Piaget sebagian besar anak usia remaja mampu memahami konsep-konsep abstrak daalam batas-batas tertentu. Geru dapat membantu mereka melakukan hal ini dengan selalu menggunakan pendekatan ketrampilan proses ( discovery approach ) dan dengan member penekanan pada penggunaan konsep-konsep dan abstrak-abstrak.
a.      Kondisi psikologis yang perlu diciptakan agar peserta didik merasa aman secara psikologis sehingga mampu mengembangkan kemampuan intelektualnya adalah sebagai berikut :
Pendidik menerima peserta didik secara positif sebagaimana adanya tanpa syarat (unconditional positive regard).
b.      Pendidik menciptakan suasana dimana peserta didik tidak merasa terlalu dinilai oleh orang lain
c.       Pendidik memberikan pengertian dalam arti dapat memahami pemikiran, perasaan dan perilaku peserta didik, dapat menempatkan diri dalam situasi peserta didik, serta melihat sesuatu dari sudut pandang mereka (empathy).
d.      Menerima remaja secara positif sebagaimana adanya tanpa syarat (unconditional positive regard).
e.      Memahami pemikiran, perasaan dan perilaku remaja, menempatkan diri dalam situasi remaja, serta melihat sesuatu dari sudut pandang mereka (empathy).
f.        Memberikan suasanan psikologis yang aman bagi remaja untuk mengemukakan pikiran-pikirannya sehingga terbiasa berani mengembangkan pemikirannya sendiri.

H.     HUBUNGAN ANTARA INTELEGENSI DAN HASIL BELAJAR

Prestasi belajar merupakan suatu objek yang sering menjadi pusat perhatian baik bagi guru maupun orang tua. Faktor yang berpengaruh terhadap prestasi belajar peserta didik yaitu:
1.      Faktor internal
Mencakup fisik, kondisi panca indra dan fisik pada umumnya, dan psikologis meliputi:
a.      Variabel nonkognitif (minat,motivasi, dan kepribadian)
b.      Kemampuan Kognitif, yaitu kemampuan khusus (bakat) dan kemampuan        umum (intelegensi)
2.      Faktor Eksternal
a.      Fisik, kondisi tempat belajar, sarana dan prasarana belajar, materi pelajaran, dan suasana lingkungan belajar.
b.      Sosial; dukungan sosial dan pengaruh budaya



Daftar Pustaka
http://351999.blogspot.co.id/2015/04/bimbingan-konseling.html

MATERI SISTEM EKSKRESI KELAS 8 IPA