Senin, 02 Desember 2019

LAPORAN LAPANGAN FISIKA LINGKUNGAN SURVEI DEPOT AIR GALON


Nama               : Bs. Dita Fitri

NIM                : A1C317054

Kelas               : Pendidikan Fisika Reguler A 2017 Mata Kuliah   : Fisika Lingkungan

LAPORAN 
LAPANGAN FISIKA LINGKUNGAN SURVEI DEPOT AIR GALON

 1.        Bagaimana cara pembunuhan kuman pada pengolahan air minum isi ulang? Jawaban :
Berdasarkan hasil survey yang telah saya lakukan dibeberapa depot air minum isi ulang yang berada di Mendalo yaitu Kemajuan dan Valencia. Pada depot pertama didaerah kemajuan menggunakan air baku berupa air sumur bor. Sedangkan depot kedua di daerah Valencia menggunakan air baku berupa air PDAM.
Untuk cara pembunuhan kuman pada kedua depot tersebut menggunakan bantuan sinar UV(Ultraviolet). Dimana cara kerja alat sinar UV ialah ketika sinar ultraviolet melepaskan foton yang diserap oleh DNA mikroorganisme yang menyebabkan kerusakan DNA sehingga proses replikasi DNA akan terhambat. Pada keadaan ini, mikroorganisme akan mati secara perlahan karena tidak dapat mengatur metabolisme sel dan tidak dapat berkembang biak.
 2.        Berapa pH air didepot tersebut dan bagaimana cara pengaturannya? Jawaban :
Depot ke-
Daerah
pH
1
Kemajuan
7,2
2
Valencia
6,9

Untuk cara pengukuran dan pengaturan pH, para pemilik depot tidak mengetahui secara pasti bagaimana cara pengukurannya menggunakan bahan apa. Namun pemilik

mengatakan pengukuran pH dilakukan oleh pihak BPOM yang dilakukan setiap 6 bulan sekali.

3.        Apa saja Mineral yang terkandung didalam air gallon dan fungsi dari masing-masing mineral?
Jawaban :

a.       KALSIUM

Fungsinya:
Menjaga kesehatan tulang dan gigi Memiliki peran penting dalam proses kontraksi
Memiliki peran dalam relaksasi otot dan pembekuan darah
Menunjang imunitas tubuh


b.      SODIUM

Fungsinya:
Menjaga keseimbangan cairan dalam tubuh
Berperan sebagai alat angkut zat gizi Menopang transmisi saraf, absorpsi glukosa dan kontraksi otot

c.       KALIUM

Fungsinya:
Membantu      pembentukan      organ dalam tubuh dan jaringan
Membantu pembentukan sel


d.      BIKARBONAT

Fungsinya:

Mendukung      proses      pencernaan dalam perut
Memelihara keseimbangan keasaman darah

e.       FLUORIDA

Fungsinya:
Menjaga kekuatan tulang
Menjaga    gigi    dari    pembentukan karies

f.        NATRIUM

Fungsinya:
Menjaga keseimbangan cairan tubuh


g.       ZINC

Fungsinya:
Membantu kerja enzim dalam tubuh Menjaga daya tahan tubuh dan fungsi saraf otak

h.      MAGNESIUM

Fungsinya:
Sebagai zat pembentuk sel darah merah

Rabu, 23 Oktober 2019

PEMANASAN GLOBAL

apakah anda pernah merasakan bahwa teriknya matahari pada siang hari pada tahun 2003 dengan tahun 2019 ini berbeda? manakah Yang lebih panas?


ya.. tepat sekali pada tahun 2019 inilah yang lebih panas. Lalu, mengapa hal itu terjadi? yuk kita bahas...

apakah anda sering mendengar kata Pemanasan Global ? apa sih pemanasan global tu? 

  • kata Wikipedia Pemanasan Global ialah proses meningkatnya suhu rata-rata atmosfer, laut, dan daratan bumi. 
  • kata lingkungan hidup.co Pemanasan Global adalah kondisi peningkatan suhu rata-rata permukaan bumi akibat konsentrasi gas rumah kaca yang berlebih. 
  • kata studio belajar Pemanasan Global adalah memanasnya iklim bumi secara umum.
nah dari ketiga sumber tersebut dapat kita simpulkan bahwa Pemanasan Global adalah naiknya/ meningkatnya derajat kepanasan yang tejadi pada atmosfer, permukaan bumi dan juga laut akibat gas rumah kaca yang berlebih. 

lalu apa saja gas rumah kaca itu? gas rumah kaca adalah penyumbang terbesar dari pemanasan global ini. apa saja bentuk kontribusi gas rumah kaca?  setiap penyebab bertambahnya efek rumah kaca juga berkontribusi langsung terhadap pemanasan global seperti:
  1. Sumber energi. Pembangkit listrik terbesar adalah dengan menggunakan batu bara dan minyak bumi.
  2. Transportasi. Karena kendaraan menggunakan bahan bakar fosil, maka gas yang dihasilkan adalah berupa CO2  . gas ini juga merupakan penyumbang dari pemanasa global.
  3. Industi ternak sapi. Hal ini yang dimaksud adalah gas yang dibuang oleh sapi yaitu metana yang merupakan dampak dari pemanasan global
  4. Industri Pertanian. Pupuk yang digunakan melepas gas nitrous oksida yang merupakan dampak dari pemanasan global
  5. limbah indsutri dan rumah tangga. 

PENGUKURAN PENCAHAYAAN RUANG KAMAR TIDUR



FISIKA LINGKUNGAN
 “PENGUKURAN PENCAHAYAAN RUANG KAMAR TIDUR”






NAMA: BS. DITA FITRI
NIM: A1C317054
KELAS: PENDIDIKAN FISIKA REGULER A 2017












PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA
 JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMUPENGETAHUANALAM
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JAMBI
 2019




KUAT PENERANGAN PADA KAMAR TIDUR
Intensitas cahaya adalah besaran pokok fisika untuk mengukur daya yang dipancarkan oleh suatu sumber cahaya pada arah tertentu per satuan sudut. Satuan SI dari intensitas cahaya adalah Candela (Cd). Intensitas cahaya adalah kuat cahaya yang dikeluarkan oleh sebuah sumber cahaya ke arah tertentu dan diukur menggunakan luxmeter dengan satuan Candela.
Lux Meter
Luxmeter merupakan sebuah alat yang mampu mengetahui serta mengukur seberapa besar intensitas cahaya yang berada di suatu tempat. Tentunya bukan rahasia umum lagi jika setiap tempat memiliki ukuran penerangan yang berbeda-beda, hal tersebut ditentukan oleh faktor kebutuhan yang melekat.
Jenis Lux meter:
Dalam perkembangannya, alat ukur cahaya tersebut dikelompokkan menjadi 2 jenis yang memiliki fungsi sama melainkan media pengukurannya berbeda.
  1. Lux meter Analog. Alat ukur cahaya jenis analog dalam mengetahui besarnya intensitas cahaya menggunakan dua skala, yakni yang terletak di atas dan di bawah. Terdapat kisaran skala 60 untuk yang terletak di atas, kemudian skala 60 untuk yang terletak di bawah. Skala tersebut merupakan penentu besar kecilnya intensitas cahaya yang ada, maka semuanya nantinya jumlah intensitas cahaya yang keluar bergantung pada skala yang digunakan.
  2. Lux Meter Digital. Sebagian besar masyarakat lebih memilih menggunakan alat ukur cahaya jenis digital, karena dinilai lebih cepat dan praktis. Terdapat tiga range yang berbeda pada skala pengukurannya, yakni A, B, dan C. Range yang digunakan nantinya berpengaruh pada pengukuran cahaya yang akan dihasilkan. Jika ingin mendapatkan hasil yang akurat, sebaiknya gunakan range A karena memiliki jumlah lux hingga 2000.
Fungsi Lux Meter:
Sesuai dengan namanya, fungsi alat tersebut adalah sebagai pengukur intensitas cahaya yang tersebar di dalam suatu tempat. Penciptaan alat ukur cahaya tersebut dilatarbelakangi kesadaran kebutuhan cahaya yang berbeda-beda di tiap ruangan, misalnya pada ruang kerja. Pencahayaan yang ada di ruang kerja tentunya harus lebih terang daripada kamar tidur.












Pengukuran Penerangan ruangan kamar menggunakan aplikasi Lux meter





                



Dari data diatas diperolah pengukuran kuat penerangan di kamar tidur sebesar 200,00 Lux. Jika dibandingkan dengan standar tingkat pencahayaan rata-rata yang ada pada tabel sebelumnya maka kamar tidur ini dikatakan sudah memenuhi standar tersebut karena 200, 00 Lux berada diantara 120-250 lux. 

Sumber

Rabu, 02 Oktober 2019

“PENGOLAHAN TANAH AKIBAT TSUNAMI”


FISIKA LINGKUNGAN

 “PENGOLAHAN TANAH AKIBAT TSUNAMI”








DOSEN PENGAMPU:
Drs. M. Hidayat, M.Pd

NAMA: BS. DITA FITRI

NIM: A1C317054

KELAS: PENDIDIKAN FISIKA REGULER A 2017




PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA

 JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMUPENGETAHUANALAM

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS JAMBI

 2019







Salah satu wilayah kabupaten Aceh Besar yang mengalami bencana gempa bumi dan tsunami yang terjadi pada tanggal 26 Desember 2004 dan termasuk kategori wilayah kerusakan yang parah dengan intensitas kerusakan antara 60-75%. Sebagian besar areal pertanian terutama lahan persawahan, pekarangan, dan tegalan, tidak dapat difungsikan lagi karena telah tertimbun oleh sampah dan sedimen serta bahan-bahan reruntuhan gedung atau perumahan.
Berdasarkan hasil investigasi terhadap dampak dan analisis sifat-sifat tanah dan air, maka pola pemanfaatan lahan pertanian di Kecamatan Lhoknga dapat diarahkan sebagai berikut :
Lahan Kelas A (Low damaged area):
Deskripsi : Ketebalan sedimen < 5 cm, tanpa erosi, sedikit atau tanpa sampah, pH lapisan atas 6,70-7,5 (netral), agak halus sampai agak kasar, gembur, agak lepas, drainase agak jelek, DHL rendah sampai sedang (0,05 - > 4,0 mS cm-1 ).
Problema : Salinitas air permukaan dan sebagian wilayah masih sangat tinggi dan sistem drainase yang agak jelek, serta tekstur lapisan atas yang agak kasar. Khusus di Kecamatan Lhoknga, lahan dengan kelas A ini masih perlu pembersihan rumput di permukaan.
Arahan Rehabilitasi dan Reklamasi Lahan :  
·         Perlu pembersihan dan perbaikan saluran irigasi dan drainase.  
·         Perlu pencucian garam pada lapisan atas dari profil tanah dengan air dari saluran irigasi dengan metode penggenangan (basin irrigation) untuk atau dengan irigasi alur (furrow irrigation).  
·         Perlu pembuatan bedengan untukpenanaman agar memudahkan dalam pengelolaan kelebihan (excess) garam/salinitas (Mitchel, 1983). o Neraca air = (Curah Hujan + irigasi—Evaporasi)  
·         Khusus untuk padi, maka perlu dibuat pematang agar dapat digenang (dipersawahkan), karena akibat tsunami, semua pematang sawah telah hilang/rata.  
·         Perlu ditetapkan neraca kebutuhan air untuk pencucian garam dan kebutuhan air tanaman.
·          Untuk menurunkan dan mengurangi tingkat salinitas tanah dapat digunakan bahan amelioran seperti CaSO4, pupuk kandang, dan S elementer.
·          Pada lahan yang tidak terpengaruh tsunami, pemakaian lahan untuk areal persawahan dapat langsung digunakan tanpa rehabilitasi yang berat.
Lahan Kelas B (Medium damaged area):
Deskripsi : Ketebalan sedimen < 10- 20 cm, tanpa erosi, sedikit sampah, pH lapisan atas 6,8i9-7,80, (netral), agak halus sampai kasar, agak lekat sampai lepas, drainase internal jelek, DHL tinggi (> 4,0 mS cm-1 ).
Problema : Salinitas sangat tinggi dan sistem drainase agak jelek, serta tekstur lapisan atas yang agak kasar dan sedimen permukaan yang dalam.
Arahan Rehabilitasi dan Reklamasi Lahan :  
·         Perlu pembersihan dan perbaikan saluran irigasi dan drainase.  
·         Lapisan sedimen perlu dipertimbangkan untuk dibuang dari lapisan tanah atas atau  Perlu pencucian garam pada lapisan atas dari profil tanah dengan air dari saluran irigasi dalam waktu dan jumlah air yang banyak.  
·         Perlu pembuatan bedengan untuk penanaman Bioremidiasi agar memudahkan dalam pengelolaan kelebihan (excess) garam/salinitas.
Tanaman Yang Disarankan (Toleran) (Departemen Pertanian, 1997) :
a.       Tanaman Setahun (annual crops) Terong, cabai, kacang tanah, padi, rumput gajah, nenas, dan sejenisnya.
b.      Tanaman Tahunan (parennial crops) : Kelapa.
Lahan Kelas C (High damaged area):
Deskripsi : Ketebalan sedimen 20- < 30 cm, tanpa dan dengan erosi, bertekstur halus sampai sangat kasar, lepas, drainase internal sangat jelek sampai cepat, DHL sangat tinggi (> 7,0 mS cm-1 ).
 Problema : Salinitas sangat tinggi dan sistem drainase agak jelek, serta tekstur lapisan atas yang sangat kasar dan tebal sedimen yang sangat dalam, sehingga tidak cocok untuk padi sebelum upaya rehabilitasi.
Arahan Rehabilitasi dan Reklamasi Lahan :  
·         Perlu pembersihan dan perbaikan saluran irigasi dan drainase.
·          Lapisan sedimen di bagian permukaan hingga terdapat tanah asli perlu dibuang atau dikerok tetapi tidak dianjurkan dengan menggunakan alat berat karena mudah terjadi kompaksi. Pekerjaan ini dapat dilakukan dengan manual menggunakan tenaga masyarakat/buruh yang dikontrakkan.  
·         Perlu pencucian garam pada lapisan atas dari profil tanah dengan air dari saluran irigasi dalam waktu dan jumlah air yang banyak.  
·         Perlu pembuatan bedengan untuk penanaman agar memudahkan dalam pengelolaan kelebihan (excess) garam/salinitas.  
·         Perlu dipertimbangkan konversi penggunaan ke bidang lain seperti usaha perikanan darat, atau untuk tanaman keras yang toleran seperti mangrove atau kelapa.  
·         Khusus di Desa Lampuuk Kecamatan Lhoknga, lahan perlu dibersihkan dari sampah-sampah tsunami yang masih bertebaran.



Sumber:                                                                                                        
Syakur, S., Basri, H., Sufardi, S., & Hatta, M. (2012). Sifat Tanah Dan Air Yang Terpengaruh Tsunami Di Kecamatan Lhoknga Kabupaten Aceh Besar. Jurnal Floratek, 7(1), 1-12.

Senin, 02 September 2019

KENAPA GARAM DIGUNAKAN SEBAGAI BAHAN UNTUK MEMBUAT HUJAN BUATAN???


FISIKA LINGKUNGAN
 “KENAPA GARAM DIGUNAKAN SEBAGAI BAHAN UNTUK MEMBUAT HUJAN BUATAN”





NAMA: BS. DITA FITRI
NIM: A1C317054
KELAS: PENDIDIKAN FISIKA REGULER A 2017












PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA
 JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMUPENGETAHUANALAM
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JAMBI
 2019




Kenapa Menggunakan Garam Untuk Membuat Hujan Buatan?

Awan sebenarnya telah mengandung uap air, hasil penguapan dari laut, sungai, danau dan dari tumbuhan. Namun, kandungan uap air masih di bawah titik jenuh sehingga tidak terjadi kondensasi membentuk air hujan.
Yang dimaksud titik jenuh adalah kandungan maksimum uap air yang diijinkan di udara agar tetap stabil menjadi uap air dan tidak berubah fase menjadi fase cair. Titik jenuh tersebut bergantung pada suhu dan tekanan udara. Makin tinggi suhu udara maka titik jenuh terjadi pada kandungan uap air yang lebih tinggi, dan sebaliknya.
Ketika kelembaban udara 80% artinya kandungan uap air masih 80% dari titik jenuh dan tidak akan terjadi hujan. Titik jenuh adalah kondisi ketika kelembanan udara sama dengan 100%. Jika tiba-tiba kelembaban di atas 100% maka kondisi menjadi tidak stabil. Kelebihan uap air sebanyak 20% akan mengalami perubahan fase menjadi zat cair sehingga kelembaban akhir udara maksimal 100%. Dengan demikian, agar terjadi kondensasi dan hujan, maka suhu awan harus turun sehingga kelembaban uap yang semula di bawah titik jenuh menjadi di atas titik jenuh (ingat makin rendah suhu maka kandungan uap air yang bersesuaian dengan titik jenuh makin kecil). Kelebihan kelembaban itu akan berubah menjadi cair dan turun sebagai hujan.
Mekanisme terbentuknya titik-titik zat cair dari uap disebut nukleasi. Sebenarnya molekul sering bertabrakan dan membentuk kumpulan molekul. Namun jika ukuran kumpulan molekul kurang dari jari-jari kritis maka kumpulan tersebut kembali menjadi molekul terpisah. Jari-jari kritis ditentukan oleh energi permukaan dan energi Gibbs zat cair. Energi permukaan cenderung memecah kumpulan molekul sedangkan energi Gibbs cenderung menyatukan molekul. Kompetisi dua energi tersebut yang menentukan jari-jari kiritis. Ketika secara tiba-tiba ukuran kumpulan molekul lebih besar dari jari-jari kiritis maka ukuran kumpulan tersebut bertambah terus (tumbuh) hingga membentuk tetes air yang besar. Proses ini ditunjukkan oleh Gambar 1.65.




Jika kandungan air di awal selalu lebih rendah daripada titik jenuh maka tidak akan terjadi hujan. Kondisi inilah yang terjadi saat musim kemarau. Pancaran sinar matahari sangat menentukan kondisi tersebut. Suhu atmosfer yang tinggi dan penguapan yang rendah menjadi faktor utama penyebab tidak tercapainya titik jenuh uap air di awan. Dalam kondisi demikian pembuatan hujan buatan merupakan satu langkah untuk mengurangi efek kekurangan air. Proses pembuatan hujan buatan dilakukan dengan menyebar garam di awan yang mengandung cukup banyak uap air. Setelah menunggu beberapa saat maka di lokasi tempat garam disebar terjadi hujan yang umumnya sangat local.
Apa efek pemberian garam?
Garam akan terurai menjadi ion-ion. Ketika ion masuk ke dalam kumpulan molekul air maka sebagian molekul menjadi bermuatan positif dan sebagian menjadi bermuatan negatif. Molekul yang telah terionisasi tersebut menghasilkan tarikan tambahan pada molekul. Dengan demikian, pada kasus ini yang berperan menyatukan molekul menjadi dua: energi Gibbs dan gaya tarik listrik akibat tarikan molekul yang terionisasi. Ini berakibat jari-jari kritis bagi terbentuknya droplet menjadi lebih kecil. Proses ini sering disebut “ion-induced nucleation”. Dengan demikian, hujan lebih mudah terjadi.
Prinsip serupa telah digunakan oleh ahli fisika pawa awal abad 20 untuk mendeteksi keberadaan partikel elementer melalui ruang berawal (cloud chamber). Suatu ruang diisi dengan uap air yang mendekati titk jenuh. Uap persebut sudah siap untuk mengalami kondensasi menjadi titik-titik air. Ketika ada partikel bermuatan yang melintas dalam ruang tersrbut maka sepanjang lintasan terjadi kondesasi karena mekanisme ion-induced nucleation. Prosesnya sama dengan pembentukan hujan buatan di mana titik air terbentuk karena pemberian garam. Jika dalam ruang tersebut juga diberikan medan listrik maka lintasan partikel membelok akibat gaya listrik. Berdasarkan arah pembelokan tersebut maka jenis muatan partikel partikel dapat ditentukan.


Gambar 1.66 adalah contoh cloud chamber beserta lintasan yang dihasilkan. Cloud chamber diperkenalkan oleh Charles Thomson Rees Wilson dari Skotlandia. Wilson menerima hadiah Nobel Fisika tahun 1927 atas penemuan ini. Dengan alat ini telah ditemukan positron (electron bermuatan positif) oleh Carl David Anderson tahun 1932. Keberadaan positron telah diramalkan secara teori oleh ahli fisika Inggris Paul Dirac tahun 1928 dan baru ditemukan empat tahun kemudian oleh Anderson. Atas penemuan ini, Anderson menerima hadiah Nobel Fisika tahun 1936



Bahan untuk “mempengaruhi” proses yang terjadi di awan terdiri dari dua jenis yaitu : 
1. Bahan untuk “membentuk” es, dikenal dengan glasiogenik, berupa Perak Iodida (AgI). 
2. Bahan untuk “menggabungkan” butir-butir atmosphere di awan, dikenal dengan higroskopis, berupa garam dapur atau Natrium Chlorida (NaCl), atau CaCl2 dan Urea. 
Sifat awan yang menyebabkan hujan oleh manusia digunakan untuk membuat hujan buatan. Dalam mempercepat hujan, orang memberi zat higroskopis sebagai inti kondensasi (perak dioksida, kristal es, es kering atau CO2 padat). Zat-zat tersebut ditaburkan ke udara dengan menggunakan pesawat terbang. Pembuatan hujan buatan disebut sebagai suatu proses pemodifikasian awan dengan menggunakan bahan-bahan kimia, terutama NaCl (garam dapur).
2. Bahan-bahan kimia yang diperlukan 
Untuk mempercepat turunnya hujan buatan dengan memberi zat higroskopis sebagai inti kondensasi. Garam-garaman seperti NaCl dan CaCl2 dalam bentuk bubuk dengan hole 10-50 mikron, ternyata cukup higroskopis jika disebarkan di udara. Garam-garam itu di udara akan berperan sebagai titik pangkal pembentukan uap-uap atmosphere pada awan. Pembentukan butir-butir atmosphere juga dapat dilakukan dengan penyebaran garam-garaman tersebut.
Tindakan selanjutnya dapat digunakan bubuk urea. Penyebaran bubuk urea dilakukan beberapa jam setelah penyebaran garam-garaman tadi atau setelah tumbuh awan-awan kecil secara berkelompok pada beberapa beberapa tempat. Bubuk urea selain dapat membentuk awan lebih lanjut, juga bersifat endotermi (menyerap panas) yang sangat baik bila bereaksi dengan atmosphere atau uap air. Penyebaran bubuk urea di siang hari dapat mendinginkan lingkungan sekitarnya sehingga kelompok-kelompok kecil awan segera bergabung menjadi kelompok-kelompok besar.
Kelompok awan besar biasanya segera terlihat agak kehitam-hitaman artinya awan hujan telah terbentuk. Tindakan berikutnya adalah penyebaran larutan yang berkomposisi air, urea serta amonium nitrat dengan perbandingan 4 : 3 : 1 ke dalam kelompok-kelompok besar awan yang tampaknya hitam. Besarnya larutan yang disebarkan antara 50 u – 100 u dengan menggunakan peralatan mikron atmosphere yang dipasang di pesawat. Larutan ini cukup dingin yaitu sekitar 4° C, yang akan mengikat awan dan mudah meresap ke dalam awan, sehingga dapat mendorong pembentukan butir-butir atmosphere yang lebih besar karena berat butir-butir atmosphere tersebut akan turun dan menimbulkan hujan.
Garam-garaman yang telah disebarkan di udara punya sifat-sifat fisis tertentu, seperti NaCl dan CaCl2 bila bereaksi dengan atmosphere dapat mengeluarkan panas, sedangkan urea dapat menyerap panas. Karena itu waktu disebar di udara akan timbul reaksi sebagai berikut:
NaCl + H2O —- ion-ion + 910 K Cal (eksoterm)
CaCl2 + H2O — ion-ion + 915 K Cal (eksoterm)
Urea + H2O —- ion-ion – 425 K Cal (endoterm)
Sifat garam-garam tersebut dapat dikemukakan sebagai berikut:
Sifat NaCl (garam dapur): berbentuk kristal, mudah larut dalam atmosphere (36 g/100 ml atmosphere daripada 20°C), dalam bentuk bubuk bersifat higroskopis, banyak terdapat di udara (dari atmosphere laut), campuran NaCl dengan es cair mencapai -20°C. Sedangkan CaCl2 adalah berbentuk kristal.
Garam dapur yang dimaksud bukanlah garam meja, tetapi adalah garam yang mempunyai sifat higroskopis yang jauh lebih besar daripada garam meja, sehingga garam meja tak dapat digunakan.
3. Perhitungan waktu yang tepat
Sebelum menyebarkan garam-garaman faktor-faktor klimatologi di daerah itu harus diperhitungkan. Penyebaran dilakukan pada ketinggian 4000-7000 kaki, dengan perhitungan faktor arah angin dan kecepatannya yang akan membawa awan ke daerah sasaran. Penyebaran NaCl dan CaCl2 hendaknya dilakukan pada pagi hari sekitar 07.30, dengan perhitungan karena pembentukan awan berlangsung pada pagi hari (dengan memperhatikan terjadinya penguapan).
Penyebaran bubuk urea biasanya dilakukan sekitar pukul 12.00, dengan perhitungan awan dalam kelompok-kelompok kecil telah terbentuk, sehingga memungkinkan penggabungan awan dalam kelompok besar. Kelompok awan besar yang dimaksud yang dasarnya tampak kehitam-hitaman.
Saat awan besar dengan dasar yang kehitam-hitaman terbentuk, sekitar pukul 15.00 dilakukan penyebaran larutan campuran yang telah dikemukakan di atas. Perhitungannya pada jam-jam tersebut awan telah terbentuk.
Perhitungan lainnya yang harus diperhatikan adalah faktor cuaca yang memenuhi persyaratan, yaitu yang mengandung uap atmosphere dengan kelembapan minimal 70%. Kelembapan harus memadai sehingga waktu inti kondensasi (NaCl dan CaCl2) disebarkan akan segera terjadi kondensasi. Kecepatan angin juga di daerah itu sekitar 10 knots dan tak terdapat lapisan inversi di udara.
Jadi kesimpulannya untuk mempercepat turunnya hujan buatan dengan memberi zat higroskopis sebagai inti kondensasi (garam-garaman NaCl dan CaCl2) pada waktu yang tepat.

Sumber:



MATERI SISTEM EKSKRESI KELAS 8 IPA