Selasa, 20 Maret 2018

Perkembangan Emosi Remaja





   

Pengertian Emosi
Hattersal ( 1985 ) dalam Mudjiran.dkk  ( 2007 ) menyatakan bahwa emosi adalah psikologis yang merupakan pengalaman subjektif yang dapat dilihat dari reaksi wajah dan tubuh. Menurut James & Lange , bahwa emosi itu timbul karena pengaruh perubahan jasmaniah atau kegiatan individu. Misalnya menangis itu karena sedih, tertawa itu karena gembira. Sedangkan menurut Lindsley bahwa emosi disebabkan oleh pekerjaan yang terlampau keras dari susunan syaraf terutama otak, misalnya apabila individu mengalami frustasi, susunan syaraf bekerja sangat keras yang menimbulkan sekresi kelenjar-kelenjar tertentu yang dapat mempertinggi pekerjaan otak, maka hal itu menimbulkan emosi. Jadi emosi adalah pengalaman afektif yang disertai penyesuaian dari dalam diri individu tentang keadaan mental dan fisik dan berwujud suatu tingkah laku yang tampak. Jadi emosi adalah pengalaman afektif yang disertai penyesuaian dari dalam diri individu tentang keadaan mental dan fisik dan berwujud suatu tingkah laku yang tampak

2.      Ciri –Ciri Emosi Remaja
Pola emosi masa remaja hampir sama dengan pola emosi masa kanak-kanak. Jenis yang secara normal dialami adalah : cinta atau kasih sayang, gembira, amarah, takut, sedih dan lainnya lagi. Perbedaannya terletak pada macam dan derajat rangsangan yang membangkitkan emosinya dan khususnya pola pengendalian yang dilakukan individu terhadap ungkapan emosi mereka.
Menurut Biehler (1972) membagi ciri-ciri emosional remaja menjadi dua rentang usia, yaitu usia 12-15 tahun dan usia 15-18 tahun.

Ciri-ciri emosional usia 12-15 tahun
·         Cenderung banyak murung dan tidak dapat diterka
·         Bertingkah laku kasar untuk menutupi kekurangan dalam hal rasa percaya diri
·         Kemarahan biasa terjadi
·         Cenderung tidak toleran terhadap orang lain dan ingin selalu menang sendiri
·         Mulai mengamati orang tua dan guru-guru mereka secara objektif

Ciri-ciri emosional remaja usia 15-18 tahun
·         “Pemberontakan” remaja merupakan ekspresi dari perubahan yang universal dari masa kanak-kanak menuju dewasa
·         Banyak remaja mengalami konflik dengan orang tua mereka
·         Sering kali melamun, memikirkan masa depan mereka

Luella Cole  mengemukakan tiga jenis emosi yaitu :
v  Emosi marah
Emosi marah lebih mudah timbul apabila dibandingkan dengan emosi lainnya dalam kehidupan remaja . penyebab timbulnya emosi marah pada diri remaja ialah apabila mereka Direndahkan, dipermalukan, dihina dan lainnya. Remaja yang sudah cukup matang menunjukkan rasa marahnya tidak lagi dengan berkelahi tapi lebih memilih mengerutu, mencaci atau dalam bentuk ungkapan verbal lainnya.
v  Emosi takut
Jenis emosi lain yang sering muncul pada diri remaja adalah emosi takut. Menjelang seorang anak mencapai remaja, dia telah mengalami serangkaian perkembangan yang mempengaruhi pasang surut berkenaan dengan rasa ketakutannya.  Remaja seperti halnya anak-anak dan orang dewasa, seringkali berusaha untuk mengatasi ketakutan yang timbul dari persoalan kehidupan. Ketakutan tersebut banyak menyangkut dengan ujian yang akan diikuti seperti rendahnya prestasi, sakit, kesepian dan lain-lain. Satu-satunya cara untuk menghindarkan diri dari rasa takut adalah keberanian menghadapi rasa takut tersebut.
v  Emosi cinta / kasih sayang
Jenis emosi ketiga yang sering muncul pada diri remaja adalah emosi cinta / kasih sayang, emosi ini telah ada sejak bayi dan terus berkembang sampai dewasa. Faktor ini penting dalam kehidupan remaja adalah untuk mencintai orang lain dan kebutuhannya untuk mendapatkan cinta dari orang lain. Kemampuan untuk menerima cinta sama pentingnya dengan kemampuan untuk memberinya. Walaupun remaja bergerak ke dunia pergaulan yang lebih luas, dalam dirinya masih terdapat sifat kekanak-kanakanya. Remaja membutuhkan kasih sayang di rumah yang sama banyaknya dengan apa yang mereka alami pada tahun-tahun sebelumnya. Karena alasan inilah sikap menentang mereka, menyalahkan mereka secara langsung, mengolok-olok mereka pada waktu pertama kali karena mencukur kumisnya, adanya perhatian terhadap lawan jenisnya, merupakan tindakan yang kurang bijaksana.
Pada masa remaja rasa cinta mulai diarahkan kepada lawan jenis . menurut cole kecenderungan remaja wanita tertarik terhadap sesama jenis berlangsung lebih lama. Keadaan ini terlihat pada sikap kasih sayang terhadap sesama wanita seperti kepada kakak, adik.

3.      Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Perkembangan Emosi Remaja
Hurlock  ( 2002 ) dalam rahmat  ( http://r4hmatdocuments.blogspot.com ) menyatakan sejumlah penelitian tentang emosi anak menunjukkan bahwa perkembangan emosi mereka bergantung kepada faktor kematangan dan faktor belajar.
Para remaja seringkali tidak menunjukkan perasaan-perasaannya, entah perasaan takut ataupun sedih. walaupun mereka terkadang merasa takut dan ingin menangis tetapi tidak berani menunjukkan perasaan tersebut secara terang-terangan. Kondisi-kondisi kehidupan dan lingkunganlah yang menyebabkan mereka merasa perlu menyembunyikan perasaan-perasaannya.
Dengan bertambahnya umur, menyebabkan terjadinya perubahan dalam ekspresi emosional. Bertambahnya pengetahuan dari lingkungan serta sekolah dan pemanfaatan media massa berpengaruh terhadap perubahan-perubahan emosional ini.
Ada dua faktor yang mempengaruhi perkembangan emosi remaja yaitu :
1.      Faktor eksternal
Umumnya emosi seseorang muncul berkaitan erat dengan apa yang dirasakan seseorang secara individu. Adapun gangguan emosi yang mereka alami antara lain :
ü  Merasa tidak terpenuhi kebutuhan fisik mereka secara layak sehingga timbul ketidakpuasan, kecemasan dan kebencian yang mereka alami
ü  Merasa di benci di sia-siakan , tidak mengerti dan tidak diterima oleh lingkungan
ü  Merasa lebih banyak dirintangi, dibantah, dipatahkan daripada diberi sokongan , dorongan, semangat
ü  Merasa tidak mampu
2.      Faktor eksternal
Menurut Hulrlock dan Cole faktor yang mempengaruhi emosi positif adalah sebagai berikut;
ü  Orang tua dan guru memperlakukan mereka seperti anak kecil sehingga harga diri mereka terasa dilecehkan
ü  Apabila dirintangi anak membina keakraban dengan lawan jenis
ü  Disikapi tidak adil oleh orang tua
ü  Merasa kebutuhannya tidak terpenuhi oleh orang tua

Sejumlah penelitian tentang emosi remaja menunjukkan bahwa perkembangan emosi mereka bergantung pada faktor kematangan dan faktor belajar. Kematangan dan belajar terjalin erat satu sama lain dalam mempengaruhi perkembangan emosi. Perkembangan intelektual menghasilkan kemampuan untuk memahami makna yang sebelumnya tidak dimengerti di mana itu menimbulkan emosi terarah pada satu objek. Kemampuan mengingat juga mempengaruhi reaksi emosional. Dan itu menyebabkan anak-anak menjadi reaktif terhadap rangsangan yang tadinya tidak mempengaruhi mereka pada usia yang lebih muda.
Kegiatan belajar juga turut menunjang perkembangan emosi. Metode belajar yang menunjang perkembangan emosi, antara lain yaitu :
1.      Belajar dengan coba-coba
Anak belajar secara coba-coba untuk mengekspresikan emosi dalam bentuk perilaku yang memberikan pemuasan terbesar kepadanya dan menolak perilaku yang memberikan pemuasan sedikit atau sama sekali tidak memberikan kepuasan
2.      Belajar dengan cara meniru
Dengan cara mengamati hal-hal yang membangkitkan emosi orang lain. Anak-anak bereaksi dengan emosi dan metode ekspresi yang sama dengan orang-orang yang diamatinya.
3.      Belajar dengan mempersamakan diri
Anak menyamakan dirinya dengan orang yang dikagumi dan mempunyai ikatan emosional yang kuat dengannya. Yaitu menirukan reaksi emosional orang lain yang tergugah oleh rangsangan yang sama.
4.      Belajar melalui pengkondisian
Dengan metode ini objek situasi yang pada mulanya gagal memancing reaksi emosional, kemudian dapat berhasil dengan cara asosiasi. penggunaan metode pengkondisian semakin terbatas pada perkembangan rasa suka dan tidak suka, setelah melewati masa kanak-kanak.
5.      Pelatihan atau belajar di bawah bimbingan dan pengawasan
Dengan pelatihan, anak-anak dirangsang untuk bereaksi terhadap rangsangan yang biasa membangkitkan emosi yang menyenangkan dan dicegah agar tidak bereaksi secara emosional yang tidak menyenangkan.

Anak memperhalus ekspresi-ekspresi kemarahannya atau emosi lain ketika ia beranjak dari masa kanak-kanak menuju masa remaja. Mendekati berakhirnya remaja, seorang anak telah melewati banyak badai emosional, ia mulai mengalami keadaan emosional yang lebih tenang dan telah belajar dalam seni menyembunyikan perasaan-perasaannya. Jadi, emosi yang ditunjukkan mungkin merupakan selubung yang disembunyikan. Contohnya, seorang yang merasa ketakutan tetapi menunjukkan kemarahan, dan seseorang yang sebenarnya hatinya terluka tetapi ia malah tertawa, sepertinya ia merasa senang.

4.      Usaha Guru Dan Orang Tua Dalam Mengembangkan Emosi Positif Remaja
Emosi yang ada dalam diri remaja ada emosi positif dan emosi negatif. Kedua emosi itu berkembang dalam diri remaja . Emosi negatif pada dasarnya dapat diredam sehingga tidak menimbulkan efek negatif dan emosi positif perlu dikembangkan. Beberapa cara untuk meredam emosi negatif itu adalah :
a.       Berpikir positif dalam arti mencoba melihat sesuatu peristiwa atau kejadian dari sisi positifnya.
b.      Mencoba belajar memahami karakteristik orang lain. Memahami bahwa orang lain memang berbeda dan tidak dapat memaksakan orang lain berbuat sesuai dengan keinginan diri sendiri.
c.       Mencoba menghargai pendapat dan kelebihan orang lain. Mereka mendengarkan apa yang dikemukakan orang lain dan mengakui kelebihan orang lain.
d.      Introspeksi dan mencoba melihat apabila kejadian yang sama terjadi pada diri sendiri, mereka dapat merasakannya.
Agar emosi positif pada diri remaja dapat berkembang dengan baik, dapat dirangsang dan disikap oleh orang tua maupun guru. Usaha untuk mengembangkannya adalah :
a)      Orang tua dan guru serta orang dewasa lainnya dalam lingkungan anak (significant person) dapat menjadi model dalam mengekspresikan emosi-emosi negatif, sehingga tampilannya tidak meledak-ledak.
b)      Adanya programlatihan beremosi nbaik disekolah maupun didalam keluarga. Misalnya dalam merespon dan menyikapi sesuatu yang tidak berjalan sebagaimana mestinya.
c)      Mempelajari dan mendiskusikan secara mendalam kondisi-kondisi yang cenderung menimbulkan emosi negatif dan upaya-upaya menggapainya secara lebih baik.


Diambil Dari http://shizukaumrilockhart.blogspot.co.id/2011/09/makalah-perkembangan-peserta-didik.html

Perkembangan Bakat Khusus

Perkembangan Peserta Didik


Perkembangan Peserta Didik

Dengan mengetahui proses, faktor dan konsep perkembangan anak didik kita akan mudah mengetahui system pembelajaran yang efektif, efisien, terarah dan sesuai dengan perkembangan anak didik. 

Untuk mengembangkan potensi anak didik dan menciptakan generasi - generasi masa depan yang berkualitas, maka diperlukan adanya pemahaman tentang perkembangan dan pertumbuhan anak didik. Dengan demikian, sebagai pendidik kita diharuskan mengetahui dan memahami perkembangan dan pertumbuhan peserta didik.
Pengertian Pertumbuhan dan Perkembangan

Pertumbuhan adalah perubahan secara fisiologis sebagai hasil dari pematangan fungsi-fungsi fisik yang berlangsung sevara normal pada anak yang sehat.
Perkembangan adalah psikofisik sebagai hasil pematangan fungsi fisik dan psikis yang ditunjang oleh lingkunag dan belajar

Anak Sebagai Suatu Totalitas

Sebagai subjek studi psikologi perkembangan, konsep anak sebagai totalitas mempunyai arti bahwa terdapat keterkaitan antara aspek fisik dan psikis yang terdapat dalam dirinya dan secara terintegrasi saling terjalin dan memberi dukungan fungsional satu sama lain. Sebagai contoh, anak yang sedang sakit bisa tidak berselera makan; anak yang sedang ketakutan bisa kesulitan untuk tidur; anak yang sedang semangat dan aktif melakukan sesuatu akan menjadi aktif pula mentalnya. Segala aktivitas yang melibatkan fisik anak selalu mempengaruhi psikis anak, begitu juga sebaliknya.

Perbedaan antara anak dan orang dewasa tidaklah terbatas pada fisiknya, melainkan secara keseluruhan. Sebagai contoh, pertumbuhan anak lebih pesat dibandingkan orang dewasa. Anak cenderung lebih bersifat egosentrik ( sifat yang berpusat / berstandar pada diri sendiri ), sedangkan orang dewasa lebih bersikap sosial dan empatik ( menempatkan dirinya pada posisi orang lain dan ikut merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain ). Daya pikir anak juga masih terbatas pada hal - hal yang konkrit, sedangkan orang dewasa sudah mampu berfikir secara abstrak dan universal.

Perkembangan Sebagai Proses Holistik Seluruh Aspek Perkembangan

Perkembangan merupakan suatu proses yang melibatkan keseluruhan aspek yang saling keterkaitan satu dengan yang lain.
Proses perkembangan individu dikelompokkan menjadi tiga, yaitu proses biologis, kognitif dan psikososial.
1. Proses biologis, mencakup perubahan - perubahan fisik individu yang bersifat alami, bukan karena kecelakaan, sakit atau peristiwa - peristiwa lainnya. Misal, pertumbuhan otak, sistem syaraf, hormone, keterampilan motorik, perkembangan seksual, perubahan penglihatan dan lain sebagainya.

2. Proses kognitif, melibatkan perubahan - perubahan kemampuan berfikir, berbahasa dan cara memperoleh pengetahuan dari lingkungan. Perkembangan kognitif dan pengalaman belajar sangat berkaitan dan saling mempengaruhi. Perkembangan kognitif anak akan menfasilitasi dan membatasi kemampuan belajar anak, begitu juga sebaliknya.

Perkembangan kognitif mengacu pada perubahan - perubahan kemampuan berfikir, dan berbahasa serta terjadi dalam waktu yang relatif lama. Sedangkan kemampuan belajar lebih cenderung mengacu pada perubahan - perubahan dari hasil pengalaman atau peristiwa yang lebih khusus, serta terjadi dalam waktu yang relatif singkat.

3. Proses psikososial, melibatkan perubahan - perubahan dalam aspek perasaan, emosi dan kepribadian individu, perkembangan identitas diri, pola hubungan dengan anggota keluarga, teman, guru dan yang lainnya.

Proses pertumbuhan biologis, kognitif dan psikososial saling berkaitan antara yang satu dengan yang lainnya. Sebagai contoh, anak yang mengalami gangguan pada otaknya, akan mengalami keterlambatan dalam berfikir, yang kemudian bisa mempengaruhi perkembangan psikososialnya.

Kematangan dan Pengalaman dalam Perkembangan Anak

Kematangan merupakan fase perubahan yang dialami oleh individu karena pengaruh genetic dan berlangsung secara bertahab.

Pengalaman merupakan peristiwa - peristiwa yang dialami oleh individu dalam kehidupannya sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungannya.

Para ahli berpendapat bahwa perkembangan anak dipengaruhi oleh genetik atau warisan biologis.
Para ahli lain mengatakan bahwa pengalaman lingkunganlah yang paling berperan dalam perkembangan anak.
Ada pula ahli yang mengatakan bahwa faktor yang mempengaruhi perkembangan anak adalah faktor genetik dan faktor lingkungan pergaulan.
Sebagai contoh, kecerdasan seseorang bisa merupakan warisan yang diturunkan dari orang tuanya, bisa pula karena diperoleh dari lingkungan tempat ia tumbuh dan berkembang.

Kontinuitas dan Diskontinuitas dalam Perkembangan

Banyak para ahli yang memperdebatkan masalah perkembangan merupakan kontinuitas atau diskontinuitas.

Para ahli yang berpandangan pada unsur kematangan, menganggap bahwa perkembangan itu diskontinuitas atau tidak berkesinambungan. . Proses perkembangan individu terjadi dalam tahap - tahap yang berbeda, perubahan - perubahannya relatife tiba - tiba dan terjadi perubahan atau peralihan secara tajam dari tahap yang satu ke tahap perkembangan selanjutnya.

Para ahli yang mendukung pandangan diskontinuitas beranggapan bahwa perkembangan dipengaruhi oleh faktor - faktor internal biologis.
Sedangkan para ahli yang menekankan pada pengalaman ( lingkugan ) berpendapat bahwa perkembangan itu terjadi secara berkesinambungan ( kontinuitas ) dari masa konsepsi dampai akhir hayat.

Dalam proses perkembangan yang kontinuitas, terjadi perbaikan, penambahan dan atau penurunan sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungan.
Emde dan Harmon ( Vasta, Haith & Miller, 1992 ) mengatakan bahwa persoalan kontinuitas dan diskontinuitas melibatkan dua komponen.

Pola - Pola Perkembangan

Para ahli kontinuitas beranggapan bahwa perkembangan itu terjadi secara halus dan stabil melalui penambahan dan atau peningkatan yang bertahap dalam hal abilitas ( kemampuan, kepandaian, kecakapan ), keterampilan dan atau pengetahuan baru pada suatu langkah yang relatif sama. Sedangkan ahli diskontinuitas beranggapan bahwa perkembangan terjadi pada periode - periode kecepatan yang berbeda, antara yang sedikit perubahannya dengan yang tajam dan cepat perubahannya.

Keterkaitan Perkembangan

Para ahli kontinuitas berpendapat bahwa perkembangan - perkembangan yang terjadi saling berkaitan. Perilaku - perilaku awal akan berpengaruh dan membentuk perilaku - perilaku selanjutnya.

Sebaliknya, para ahli diskontinuitas berpendapat bahwa perkembangan yang terjadi muncul secara independent ( berdiri sendiri ) dari yang sebelumnya dan tidak dapat diprediksi dari perilaku - perilaku sebelumnya.

Faktor Hereditas dan Lingkungan dalam Perkembangan Anak. 

Manusia merupakan makhluk Tuhan yang paling sempurna dibandingkan dengan makhluk - makhluk lainnya. Manusia memiliki potensi untuk berkembang dan meningkatkan kehidupannya baik secara fisik maupun psikis.
Ada dua faktor yang paling berpengaruh terhadap perkembangan individu.
1. Faktor hereditas yang bersifat alamiah dan diwariskan oleh orang tua. Pada faktor hereditas terdapat gen yang merupakan sifat bawaan yang nantinya akan ditularkan oleh satu generasi ke generasi berikutnya.

Pertama gen - gen dominant-resesif, yakni apabila gen dari suatu pasangan bersifat dominant dan yang satu bersifat resesif, maka yang dominant itulah yang nantinya akan tertanam dalam diri individu tersebut.
Kedua pewarisan poligenik. Sebenarnya, dalam satu sel terdapat banyak gen yang akhirnya menghasilkan karakteristik yang berbeda - beda. Karena beberapa karakteristik psikologi merupakan hasil dari pasangan - pasangan tunggal, sedangkan kebanyakan ditentukan oleh interaksi dari banyak gen yang berbeda.

2. Faktor lingkungan sebagai kondisi atau pengalaman - pengalaman interaksional yang memungkinkan berlangsungnya proses perkembangan.

Misal, di dalam keluarga, setiap anak mempunyai karakter dan pengalaman yang berbeda - beda. Tergantung dari perlakuan orang tua kepada setiap anak - anaknya, dan pergaulan dari masing - masing anak. Hal ini menandakan bahwa faktor lingkungan juga turut mempengaruhi perkembangan individu.

Perkembangan Fisik dan Perseptual Anak Sekolah Dasar

Masa usia sekolah merupakan masa dimana anak mulai memasuki dunia pendidikan formal, yakni sekolah. Sekolah Dasar merupakan pendidikan formal pertama yang berfungsi sebagai pembuka jalan bagi anak untuk mengembangkan potensi dan kemampuan anak serta memudahkan mereka dalam meraih mimpi yang mereka harapkan untuk masa depannya nanti. Serta sebagai jembatan pertama untuk melanjutkan ke jenjang selanjutnya. Usia anak sekolah dasar berkisar antara 6 - 12 tahun.

- Perkembangan Fisik

Perkembangan fisik pada anak memiliki karakteristik yang berbeda baik sebelum maupun sesudah anak-anak. Perkembangan fisik pada anak usia sekolah dasar perlu dipelajari dan dipahami oleh setiap guru, karena dipercaya bahwa segala aktivitas-aktivitas belajar dan aktivitas-aktivitas yang menyangkut mentalnya serta pembentukan kepribadian dipengaruhi oleh kondisi dan pertumbuhan fisik

Anak - anak dan orang dewasa mempunyai banyak perbedaan, baik dari segi fisik maupun psikisnya. Dilihat dari segi fisik misalnya berat badan, tinggi badan, proporsi dan bentuk tubuh. Sedangkan dari segi psikisnya misal, sifat, tingkah laku dan pola pikir.

- Perseptual Anak

Sebagaimana yang sudah dijelaskan diatas bahwa perceptual anak menekankan pada aspek luar ( lingkungan ) sebagai hasil dari rangsangan alat indra. Semua keadaan dan peristiwa - peristiwa yang ada di lingkungan ditangkap oleh alat - alat indra yang kemudian disalurkan ke otak melalui syaraf sensorik, sehingga segala informasi yang ada di lingkungan dapat diterima dan diketahui oleh alat - alat indra ( penglihatan, pendengaran, penciuman, perasa/sentuhan ). Tanpa alat indra, otak kita akan terasa asing dengan keadaan lingkungan yang ada disekitar.

Penerapan Faktor Perkembangan dalam Pembelajaran

Perkembangan fisik anak terus berlangsung pada masa usia sekolah dasar, meskipun tidak sepesat pada masa usia dini. Begitu pula dengan penajaman dan penghalusan perkembangan perceptual anak.

Penyelenggaraan pembelajaran yang “hidup” dan sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan fisik anak sangatlah dibutuhkan untuk memfungsikan unsure - unsure fisik dan atau aspek - aspek perseptualnya.

Cara pembelajaran yang diharapkan antara lain : bersifat langsung, tersusun secara fleksibel, tidak monoton dan verbalistik, memperhatikan perbedaan individu, menyajikan aktivitas yang bervariasi seperti eksperimen, praktek, observasi secara langsung, permainan dan sejenisnya, serta menggunakan berbagai media dan sumber belajar.

Cara ini tidak hanya akan memunculkan kegemaran dalam belajar, tetapi juga memberikan hal - hal yang positif, aspek kognisi dan kreativitas, fisik-perseptual, dan sosial.


Sumber : http://edukasi.kompasiana.com/2010/10/25/makalah-perkembangan-peserta-didik/
http://enikekawati.student.fkip.uns.ac.id/2010/05/12/perkembangan-peserta-didik/
http://cheesterzone.blogspot.co.id/2011/04/perkembangan-peserta-didik.html 

Kamis, 15 Maret 2018

Kumpulan Pusi dan Kata Motivasi



Rindu

Rindu....

Saat aku tiba.
Tersirat senyum yang sangat mendalam kau sampaikan lewat raut wajahmu.
Pelukan hangat menghampiriku dengan penuh keiklashan.
Nasehat serta motivasi yang indah selalu kau sampaikan.
Dengan kata-kata yang lucu tapi mengharukan. 

Rindu...
Rasa yang sulit dijelaskan
tapi bisa dilepaskan saat bertemu
Rindu...

Ya... 
Aku Rindu...



TEMANKU

        

Orangnya Ramah
Tak Pernah Marah
Sopan Dirumah
Sopan Dimana-mana

             Dirumah Tak Banyak Tingkah
             Berkelahi Tak Pernah             
             Slalu Ingat Nasihat Ibu dan Ayah             
             Dengan Adik Suka Mengalah

Kaulah Temanku
Teman Sejatiku
Semoga Kita Tetap Bersama
Untuk Selamanya

Kata Motivasi

"Jadilah Orang Yang Banyak Menginspirasi Anak Bangsa"

"Hilangkan Budaya Malas Karna Jika Kamu Malas Akan Menghambat Kesuksesanmu"

"Jangan Sering Mengeluh Tapi Berusaha Ikhlas Dalam Menghadapi Segala Altifitas Karna Jika Ikhlas Allah Akan Memudahkan Segala Urusan Kita"

"Berusahalah Untuk Membahagiakan Kedua Orang Tuamu, Karna Tanpa Kerja Keras Mereka Kamu Bukan Siapa-Siapa"

"Mendapat Teman Itu Sangat Mudah, Karna Siapa Pun Bisa Menjadi Teman, Tapi Mendapat Sahabat itu Sangat Susah, Karna Sahabtlah yang Bisa Mengerti Keadaanmuu, Yang Selalu Memberi Masukan Nasehat Untuk Menjadi Lebih Baik. Jagalah sebuah Persahabatan"

"Pacaran Hanyalah Cinta Yang Sementara Berhubungan Dengan Nafsu dan Berbuah Dosa"


"Kasih Sayang Tak Ternilai adalah Kasih Sayang Orang Tua Terhadap Anaknya, Kakak Terhadap Adiknya, Begitupun Sebaliknya"

"Ketika Jenuh Itu Datang Dirimulah Yang Bisa Menghilangkanny"

"Waktu Memang Cepat Berlalu, Apalagi Hal Yang Indah, Jadikan Kenangan Indah Itu Menjadi Memory Yang Tak Terlupakan"

"Jangan Pernah Menyerah, Teruslah Rajin, Semangat dan Berdoa. Jangan Pernah Malas Untuk Menjadi Seorang Yang Berprestasi, Pintar. Ingat Banyak Orang Yang Kamu Bahagiakan Terutama Kedua Orang Tuamu.

"Ketika Rindu Itu Datang. Do'alah Yang Paling Tepat Menyampaikan. Walaupun Yang Dimaksud Tidak Mendengar. Tapi Allah Maha Mendengar"

"Cinta Yang Sejati Adalah Cinta Yang Selalu Menghadirkan Allah Disetiap Langkahnya"  

By. BDF 😊💚


Selasa, 27 Februari 2018

TUGAS PENGANTAR PENDIDIKAN





REMAJA

1.     Pengertian Remaja.
Remaja atau adolescence berasal dari bahasa latin “adolescence” yang berarti tumbuh kearah kematangan. Kematangan yang dimaksud adalah bukan hanya kematangan fisik saja, tetapi juga kematangan sosial dan psikologis. Pasa masa ini sebenarnya tidak mempunyai tempat yang jelas karena tidak termasuk golongan anak tetapi tidak juga golongan dewasa atau tua
Masa Remaja merupakan masa peralihan antara masa kanak – kanak dan masa dewasa,  yang dimulai pada saat terjadinya kematangan seksual yaitu antara  usia 11 atau 12 tahun sampai dengan 20 tahun yaitu menjelang masa dewasa muda (Soetjiningsih. 2004 : 45). 
Fase remaja merupakan segmen perkembangan individu yang sangat penting,  yaitu diawali dengan matangnya organ – organ fisik (seksual) sehingga mampu bereproduksi (Syamsu Yusuf. 2004 : 184)
Masa remaja adalah masa peralihan dari anak – anak  menuju dewasa yang mencakup kematangan mental, emosional, sosial dan fisik (Hurlock, Elizabeth B. 1999 : 206). 

Remaja (Rencana Masa Jaya) kenapa dikatakan bahwa remaja merupakan Rencana Masa Jaya. Seperti dijelaskan diatas bahwa remaja adalah proses menuju dewasa. Hal itu menyebabkan pada fase remaja kita dapat merencanakan bagaimana kedepannya hidup kita di masa depan. Jika kita tidak memiliki rencana terbaik dari masa remaja maka kita akan sulit menentukan masa depan kita bagaimana. Masa Remaja sangatlah penting bagi pertumbuhan karna di Masa Remaja proses mengetahui apa yang baik dan apa yang buruk. Masa Remaja dapat menjerumuskan kita kejalan yang buruk apabila kita salah pergaulan. Karna masa remaja masa dimana tingkat emosional tinggi, rasa ingin tau tinggi, dll.
Masa remaja belangsung antar umur 12 tahun sampai dengan 21 tahun bagi wanita dan 13 tahun sampai dengan 22 tahun bagi pria. 
2.     Tahap-Tahapan Masa Remaja
American Academy of Child and Adolescent Psychiatry membagi tahapan perkembangan remaja menjadi 3 (tiga) bagian yaitu, remaja awal, remaja pertengahan dan remaja akhir. Tulisan berikut mencoba menguraikan tentang perkembangan masing-masing tahapan tersebut.
1.      Remaja awal (12-13 tahun)
-       Perkembangan fisik
Beberapa perkembangan fisik yang terjadi pada periode ini adalah pertumbuhan rambut pada beberapa area tubuh, meningkatnya produksi dan pengeluaran keringat serta minyak pada rambut dan kulit, kejadian ini biasa juga disebut dengan istilah tanda-tanda pubertas pada seseorang.
Pada remaja perempuan, payudara mulai mengalami pembesaran serta mulai mengalami menstruasi, sedangkan pada remaja laki-laki, alat kelamin mulai mengalami pertumbuhan, mimpi basah serta perubahan suara. Periode ini juga merupakan periode dimana berat badan dan tinggi badan mengalami perkembangan yang luar biasa.
-          Perkembangan Kognitif
Pada tahapan ini, kemampuan berfikir mulai tumbuh dan pada umumnya sudah mulai berfikir tentang masa depan meskipun dalam taraf terbatas dan aspek moral selalu menjadi perhatian.
-          Perkembangan Sosial-Emosional
Remaja pada tahapan ini mulai berusaha menunjukkan identitas dirinya,  muncul perasaan canggung  saat bertemu dengan seseorang, konflik dengan orang tua meningkat, pengaruh teman sebaya sangat besar, memiliki perasaan bebas dan tidak mau diatur, memiliki kecenderungan berperilaku kekanak-kanakan khususnya jika mereka mengalami stress, sifat moodi meningkat, ketertarikan kepada lawan jenis juga meningkat.
2.      Remaja pertengahan (14-18 tahun)
-          Perkembangan fisik
Pertumbuhan pubertas pada tahapan ini sudah sempurna, disisi lain pertumbuhan fisik pada perempuan mulai melambat akan tetapi pada remaja laki-laki terus berlanjut.
-          Perkembangan Kognitif
Kemampuan berfikir terus meningkat, sudah mulai mampu menetapkan sebuah tujuan, tertarik pada hal-hal yang lebih rasional dan mulai berfikir tentang makna sebuah kehidupan
-          Perkembangan Sosial-Emosional
Pada periode ini, remaja mulai melibatkan diri secara intens dalam sebuah kegiatan yang ia senangi, mengalami perubahan dari harapan yang tinggi tetapi dengan konsep diri yang kurang. Body Image terus berlanjut, kecenderungan untuk jauh dari orang tua semakin meningkat dan semakin ingin bebas dari orang tua, pengaruh teman sebaya juga masih sangat kuat, issu popularitas bisa mejadi sangat penting dalam periode ini, perasaan cinta dan gairah pada lawan jenis semakin meningkat.
3.      Remaja akhir (19-21 tahun)
-          Perkembangan fisik
Pertumbuhan fisik pada remaja putri biasanya sudah mencapai pada puncaknya atau sudah sempurna, sedangkan pada remaja putra, masih terus berlanjut khususnya pada peningkatan berat, tinggi, massa otot dan rambut pada tubuh.
-          Perkembangan Kognitif
Mereka sudah mulai memiliki kemampuan untuk memikirkan sebuah ide mulai dari awal sampai akhir, kemampuan untuk menunda kepuasan atau kegembiraan, mulai peduli pada masa depan dan berpikir rasional.
-          Perkembangan Sosial-Emosional
Identitas diri semakin kuat, termasuk identitas seksual, stabilitas emosi dan kepedulian terhadap orang lain semakin meningkat, semakin mandiri, hubungan antar teman sebaya tetap menjadi issu yang penting dan hubungan dengan lawan jenis semakin serius.


Sumber :
Hurlock, Elizabeth B. Alih bahasa Isti Widayanti dan Sudjarwo. (1999). Psikologi Perkembangan. Jakarta : Erlangga. 

Sofyan S. Willis. (2005).  Remaja dan Masalahnya Mengupas Berbagai bentuk Kenakalan Remaja seperti Narkoba, Freesex dan Pemecahannya. Bandung : CV Alfabeta.

Yusuf Syamsu. (2004).  Psikologi Anak dan Remaja. Bandung : PT Remaja Rosdakarya.

http://belajarpsikologi.com/pengertian-remaja/ (diakses pada 28 Februari 2018)

MATERI SISTEM EKSKRESI KELAS 8 IPA